1) Apakah benar-benar (pernah) ada? dan kini dimanakah gerangan hutan keramat itu? Ataukah hanya tutur yang diwariskan di tengah rimba mistis? Tempat segala pohon, manau, semak belukar, buluh, umbi-umbian dan lumut berikat kata sepakat. Ataukah hutan keramat milik para peladang bunian, di tempat mana segala pohon, segala batang, segala miang, segala duri, segala semak, segala lumut bersembunyi di antara fakta dan fiksi? Ataukah tempat bersemayamnya segala binatang melata, berbisa, keluarga segala kera, simpai beruk hingga cigak? Apatah mungkin juga di tempat mana badak bercula mandi kubangan, gajah tambun berkawanan dan singasana harimau tua bertahta? Rindangnya sebatang jawi-jawi tinggi serentang sayap elang ….. pertanda rimba keramat kuala sungai limau di sisinya tegak sialang gagah berdiri tempat be...
Di gelangang perburuan perhelatan nagari kumpulan orang, tua-muda bersenda-tawa saling sindir, mencibir dan unjuk kehebatan bangga, dan yang paling pas adalah bentuk kesombongannya hanya karena kecakapan anjing miliknya, menyergap dan menangkap buruan Lolongan anjing bersahutan minta bagian, memekakkan telinga. Seolah seperti irama mantera yang selalu memanggil mereka melakukan “ritual” yang sama, “berburu”. Di sudut gelanggang, di dekat tunggul kayu surian yang meranggas, merintih karena hampir setiap petang menjadi tempat bakaran sisa buangan. Si bujang anyir muda mentah umur baru setahun jagung, darah baru setampuk pinang duduk termenung… Nasibnya tak semujur peburu lainnya tak tampak buruan yang dibawa dan belati masih terhunus di tangannya “Oi bujang mentah, malang nian nasibmu, mana buruanmu?”, suara lantang terdengar sambil tertawa, membuyarkan lamunannya. Seumpama petir menggelegar menyambar, membuat telinga si bujang any...
Komentar
Posting Komentar