Postingan

Jalan pulang berpalang buntu

Tak salah jika kau anggap ini bagai gulai yang hampir basi yang sekedar dihangat-hangatkan lagi untuk disajikan kembali Melihatnya saja sudah jelas tak mengundang seleramu  Apalagi berlama-lama duduk bersama denganku Lidah yang tak sengaja terlanjur kebas tak bisa menyisihkan yang manis ditelan dan yang sepah dibuang apa saja yang di depan terjangkau tangan disambarnya bagai tersudu amarah yang tak bisa terleraikan “Tak ada maksud membuat memar di hati, terlintas sajapun aku tak mampu”, lirihnya Namun, semua pintu tlah kau katupkan rapat-rapat Kini, seumpama meratapi “nasi sudah menjadi bubur” tali putus, pasak lepas tangga patah, penggalah pun tersangkut Dalam rimba belantara, tak mudah menemukan jalan pulang ketika rapatnya pepohonan dan semak belukar menyamarkan arah tebalnya rumput dan lembah lumut dingin menjadi sekutuku menemani hingga fajar menyibak menerangi jalan pulang “Beri aku sari pati empedu tanah, biar yang buruk-buruk segera menguap dari diri dan berha...

Bayangan serupa kenangan

Sedalam ingatan tertanam dirangkainya kembali lembaran-lembaran bayangan serupa kenangan yang direkatkannya pada seutas benang dan diregangnya satu persatu… tak lelah dan tak pudur harapannya seumpama mencoba menyelesaikan untaian benang yang kusut masai Hanya desiran daun aur yang bersentuhan ditiup angin yang mengingatkannya pada dendang pelerai nasib yang tak tertanggungkan lagi oleh badan oh, ini jua yang mengingatkannya pada asa yang tertanam yang tak lagi tumbuh seumpama bulir padi hampa Semak ilalang, paku resam dan tebalnya rumput yang dingin disiram hujan malam tadi menjadi tempat mengadu bujang bulu remang ketika segala perasaian tak terpikulkan lagi dan tak terjinjing lagi kenangan yang membawa badannya sansai Tak mudah bagi bujang bulu remang ingatan yang tlah tertancap dalam cerita rindu yang disematkan pada bunga sekuntum yang tak pernah usai bagai ombak yang tak pernah mengeluh mengejar daratan pantai Sepanjang masa … ...

Di Setapak Jalan

Pada benang seutas dikebatkannya untaian kalimat-kalimat doa diatas sehelai tikar kain … dipanjatkannya kepada pemilik semesta Pada buluh seruas dirautnya rupa segala asa pada bunga sekuntum yang harumnya memesona hati diselipkannya rindu yang tak pernah usai Pada hamparan semak ilalang di pinggir batang air yang mengalir deras itu direbahkan kurus tubuhnya perlahan meredam erang, melepas penat, dan menengadah Pada hamparan langit sebidang ditatapnya gumpalan awan serempak berarak piuh pilin angin pun tiba-tiba berembus “Sebelum gabak berarak ke hulu, sebelum jalur ke muara berkepusu”, ujarnya lirih Meski penat masih menggelayut erat, walau persendian ngilu terasa, ia pun tegak lalu, melangkah di setapak jalan… Depok, 26 Februari 2017

Tumbuh di Parak Hati

Kerap aku tak mampu Merambah pokok-pokok rindu Yang dulu pernah disemai dan tumbuh di  parak hati Jujur, kita tak merawatnya sepenuh hati Ia tumbuh dalam prasangka dan keraguan Lalu kita biarkan terbawa sunyi … Kini, Aku menatap pokok rindu itu Sendiri, Tumbuh di belantara kesunyian Diantara belukar penuh duri Terluka … Tertatih tak berdaya   Jakarta, 14 Februari 2017

Rindu memahat hati

Gambar

Rasa itu

Gambar

Ada laut

Gambar