Jalan pulang berpalang buntu
Tak salah jika kau anggap ini bagai gulai yang hampir basi yang sekedar dihangat-hangatkan lagi untuk disajikan kembali Melihatnya saja sudah jelas tak mengundang seleramu Apalagi berlama-lama duduk bersama denganku Lidah yang tak sengaja terlanjur kebas tak bisa menyisihkan yang manis ditelan dan yang sepah dibuang apa saja yang di depan terjangkau tangan disambarnya bagai tersudu amarah yang tak bisa terleraikan “Tak ada maksud membuat memar di hati, terlintas sajapun aku tak mampu”, lirihnya Namun, semua pintu tlah kau katupkan rapat-rapat Kini, seumpama meratapi “nasi sudah menjadi bubur” tali putus, pasak lepas tangga patah, penggalah pun tersangkut Dalam rimba belantara, tak mudah menemukan jalan pulang ketika rapatnya pepohonan dan semak belukar menyamarkan arah tebalnya rumput dan lembah lumut dingin menjadi sekutuku menemani hingga fajar menyibak menerangi jalan pulang “Beri aku sari pati empedu tanah, biar yang buruk-buruk segera menguap dari diri dan berha...